PRINSIP (Menerapkan Pendekatan Culturally Responsive Teaching pada Pembelajaran; Studi Kasus Penerapan CRT ) PENGAJARAN DAN ASESMEN

PRINSIP PENGAJARAN DAN ASESMEN

Menerapkan Pendekatan Culturally Responsive Teaching pada Pembelajaran

Studi Kasus Penerapan CRT (5)

Disusun oleh:

Norminingsih Fitriani

2470307723

Bapak/Ibu guru telah mempelajari konsep pendekatan CRT. Kini saatnya Bapak/Ibu guru mengajak rekan sesama guru/kepala sekolah/pengawas untuk dapat melakukan studi kasus bersama. Diskusikan alternatif solusi kedua contoh kasus di bawah ini dari sudut pandang penerapan CRT.

Contoh Kasus 1

 Pak Surya adalah guru matematika. Pekan ini Pak Surya akan menyampaikan materi mengenai perkalian. Sekolah Pak Surya berlokasi dekat dengan pasar dan sebagian besar dari orang tua peserta didik merupakan pedagang. Bagaimana kegiatan pembelajaran yang sebaiknya dirancang oleh Pak Surya dengan menerapkan pendekatan CRT?

A. INTRODUCTION  

Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) berfokus pada penggunaan latar belakang budaya siswa untuk memperkaya pengalaman belajar. Melalui CRT, guru dapat merancang pembelajaran yang relevan secara budaya, sehingga siswa lebih mudah memahami dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pendekatan ini penting terutama dalam konteks sekolah dengan keragaman budaya yang tinggi, seperti di sekitar lingkungan pasar yang beragam.

B. KONDISI 

Pak Surya, seorang guru matematika di sekolah yang berlokasi dekat pasar, menghadapi kelas di mana sebagian besar siswa berasal dari keluarga pedagang. Ini memberikan peluang bagi Pak Surya untuk memanfaatkan konteks pasar sebagai medium pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna bagi siswa. Tantangannya adalah bagaimana mengaitkan konsep perkalian dengan kehidupan sehari-hari siswa yang akrab dengan perdagangan.

C. SOLUSI 

a. PEMBELAJARAN 1

Pembelajaran Kontekstual dengan Pasar 

Pak Surya dapat merancang kegiatan pembelajaran yang menekankan hubungan antara konsep perkalian dengan aktivitas perdagangan di pasar. Misalnya, ia bisa membuat skenario di mana siswa diminta untuk menghitung total harga barang-barang yang dibeli dalam jumlah besar. Ini akan membuat perkalian menjadi lebih bermakna karena siswa bisa langsung melihat bagaimana matematika diterapkan dalam transaksi perdagangan.

AKTIVITAS

Siswa diminta untuk menghitung harga total dari beberapa barang yang dijual dengan harga grosir. Misalnya, 

“Jika satu lusin apel dijual seharga Rp24.000, berapa harga untuk 5 lusin?” 

Kegiatan ini relevan dengan keseharian siswa yang sering melihat orang tua mereka berdagang. 

MANFAAT 

Aktivitas ini memungkinkan siswa memahami bahwa matematika tidak hanya konsep abstrak, tetapi sangat berguna dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.


b. PEMBELAJARAN 2

Penggunaan Media Visual dan Cerita dari Kehidupan Nyata 

Untuk memperkuat pemahaman siswa, Pak Surya bisa menggunakan media visual seperti gambar atau video yang menunjukkan proses perdagangan di pasar. Dengan demikian, siswa dapat melihat langsung bagaimana matematika digunakan di dunia nyata. Selain itu, Pak Surya juga bisa menggunakan cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari di pasar untuk mengilustrasikan konsep perkalian.

AKTIFITAS= 

Pak Surya dapat menampilkan video pendek tentang aktivitas jual beli di pasar, di mana harga barang-barang ditentukan berdasarkan kuantitas tertentu. 

Kemudian, siswa diajak untuk menghitung total pembelian menggunakan konsep perkalian.

MANFAAT =

Penggunaan visual dan cerita dari kehidupan nyata membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami, terutama untuk siswa yang mungkin memiliki gaya belajar visual .

Penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching memungkinkan Pak Surya merancang pembelajaran matematika yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan mengaitkan konsep perkalian dengan aktivitas perdagangan yang mereka kenal, siswa akan lebih mudah memahami dan mengaplikasikan konsep tersebut. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga membuat siswa merasa dihargai karena latar belakang budaya dan pengalaman mereka diintegrasikan dalam proses pembelajaran.



Contoh Kasus 2

Ibu Nisa adalah guru Bahasa Sunda. Ibu Nisa menemukan bahwa peserta didiknya berasal dari berbagai suku dan hanya sebagian kecil yang merupakan Suku Sunda. Sebagian besar mereka mengalami kesulitan untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan Ibu Nisa untuk dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan pendekatan CRT?

A. INTRODUCTION 

Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran bahasa daerah sangat penting ketika peserta didik berasal dari latar belakang budaya yang beragam. Dengan CRT, guru dapat merancang kegiatan yang mengintegrasikan pengalaman budaya siswa ke dalam pembelajaran, sehingga siswa merasa lebih terhubung dan terlibat aktif dalam proses belajar. Dalam konteks Ibu Nisa yang mengajar Bahasa Sunda di kelas yang mayoritas bukan dari Suku Sunda, tantangan utamanya adalah bagaimana membuat pembelajaran tersebut relevan, menyenangkan, dan dapat diterima oleh semua siswa.

Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran bahasa daerah sangat penting ketika peserta didik berasal dari latar belakang budaya yang beragam. Dengan CRT, guru dapat merancang kegiatan yang mengintegrasikan pengalaman budaya siswa ke dalam pembelajaran, sehingga siswa merasa lebih terhubung dan terlibat aktif dalam proses belajar. Dalam konteks Ibu Nisa yang mengajar Bahasa Sunda di kelas yang mayoritas bukan dari Suku Sunda, tantangan utamanya adalah bagaimana membuat pembelajaran tersebut relevan, menyenangkan, dan dapat diterima oleh semua siswa.

B. KBM 

1. Pembelajaran 1
Penggunaan Konteks Multibudaya dalam Pembelajaran 
Salah satu strategi yang bisa digunakan Ibu Nisa adalah menyusun pembelajaran yang menyoroti keragaman budaya siswa, termasuk bahasa dan tradisi mereka, dalam konteks belajar Bahasa Sunda. Misalnya, Ibu Nisa bisa membandingkan kosa kata Bahasa Sunda dengan bahasa daerah lainnya yang digunakan oleh siswa. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk memahami Bahasa Sunda dalam konteks yang lebih luas dan familiar.

AKTIFITAS 
Ibu Nisa bisa mengajak siswa untuk membandingkan kata-kata sederhana seperti "terima kasih" atau "sampai jumpa" dalam Bahasa Sunda dan bahasa daerah siswa lainnya, seperti Jawa, Minangkabau, atau Batak. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih menarik karena siswa merasa budaya mereka juga dihargai.

MANFAAT 
Strategi ini membuat siswa merasa dilibatkan dan dihargai, serta memberikan mereka kesempatan untuk mengenal budaya lain sekaligus belajar Bahasa Sunda.

2. Pembelajaran 2 

Mengaitkan Pembelajaran dengan Bahasa dan Budaya Siswa 
Ibu Nisa bisa memanfaatkan pengalaman siswa dengan bahasa dan budaya mereka masing-masing sebagai jembatan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Siswa dapat diajak untuk menceritakan kisah-kisah dari budaya mereka dalam Bahasa Sunda, atau mencoba menerjemahkan lagu atau puisi dari budaya mereka ke Bahasa Sunda. Dengan demikian, siswa akan merasa lebih terhubung dengan materi yang diajarkan.

AKTIFITAS 
Siswa diminta untuk mencari satu cerita rakyat dari daerah mereka dan mencoba menceritakannya dalam Bahasa Sunda, dengan bimbingan Ibu Nisa. Atau, Ibu Nisa bisa meminta siswa untuk mencari lagu daerah mereka, kemudian bersama-sama menerjemahkan liriknya ke Bahasa Sunda.

MANFAAT
Dengan mengaitkan pembelajaran dengan budaya asal siswa, proses belajar menjadi lebih relevan dan personal, sehingga siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi.


3. Pembelajaran 3  

Pembelajaran Kolaboratif dan Interaktif 
Ibu Nisa dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif dan interaktif, di mana siswa belajar Bahasa Sunda melalui permainan atau kegiatan kelompok. Salah satu cara adalah dengan menggunakan permainan bahasa, seperti tebak kata, yang melibatkan penggunaan Bahasa Sunda secara sederhana namun menyenangkan. Ibu Nisa juga bisa mengatur kegiatan berbasis proyek, di mana siswa dari berbagai latar belakang suku berkolaborasi untuk membuat karya dalam Bahasa Sunda.

AKTIFITAS 
Ibu Nisa dapat membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari berbagai suku, dan meminta mereka untuk membuat skenario pendek dalam Bahasa Sunda yang mencerminkan tradisi dari daerah masing-masing. Skenario ini kemudian dipresentasikan di depan kelas, sehingga terjadi pertukaran budaya sekaligus belajar Bahasa Sunda.

MANFAAT 
Pembelajaran yang kolaboratif dan interaktif membuat siswa lebih aktif dalam proses belajar, serta memberikan mereka kesempatan untuk belajar dari satu sama lain.

 
Penerapan Culturally Responsive Teaching dalam pembelajaran Bahasa Sunda akan membantu Ibu Nisa menciptakan suasana kelas yang inklusif dan menyenangkan, terutama bagi siswa yang berasal dari latar belakang budaya non-Sunda. Dengan menggunakan konteks budaya siswa dalam pembelajaran, Ibu Nisa dapat membuat materi pelajaran lebih relevan dan mudah dipahami oleh semua siswa. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menghargai keragaman budaya di kelas, sehingga siswa merasa lebih dihargai dan terlibat aktif.

note
suwun untuk komentar na yakk teman2 


#net


Comments

  1. Inspiratif,.saya bisa belajar banyak

    ReplyDelete
  2. SEMANGAT untuk SELURUH GURU SMK MUHAMMAMADIYAH 3 GIRIWOYO
    TEMA atau PEMBAHASAN yang bagus untuk banyak diketahui rekan-rekan, walaupun disekolah kita khususnya tidak ada yang campuran budaya (bahasa, keseharian, kepercayaan, adat-istiadat). tapi model pembelajaran atau sistem KBM bisa untuk diketahui atau dipelajari guru yang lain. semangat guru SMK

    ReplyDelete
  3. Bagus....
    Bisa menjadi referensi bagi guru dalam mengajar.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

PRINSIP (MERANCANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI) PENGAJARAN DAN ASESMEN

PRINSIP PENGAJARAN DAN ASESMEN : RANCANGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI; NARRATIVE TEXT